Jumat, 28 Maret 2014
MH370 Diduga Alami Kerusakan Navigasi
TEMPO.CO , Jakarta: Direktur Keselamatan Perum Navigasi
Lembaga Penyelanggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia, Wisnu Dardjono,
berpendapat penyebab berbalik arahnya Malaysia Airlines MH-370 dari perbatasan
Vietnam ke Samudera Indonesia akibat kesalahan elektronik. "Kemungkinan
besar sistem komunikasi dan navigasinya rusak," kata Wisnu kepada Tempo,
Jumat, 28 Maret 2014.
Menurut Wisnu, kemungkinan tersebut sangat kuat jika motif
dugaan pembajakan teroris dan upaya bunuh diri pilot bisa ditepis. Sebab
peristiwa serupa pernah terjadi di Indonesia. Pesawat Boeing 737-300 milik Adam
Air dalam penerbangan dari Jakarta ke Makassar di Sulawesi Selatan malah
menyasar sampai Bandara Tambolaka, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada
11 Februari 2006. (Baca: Info Radar MH370 Mungkin Sengaja Disembunyikan).
Berdasar hasil penyelidikan Komisi Nasional Keselamatan
Transportasi, penyebabnya kerusakan Adam Air ada di sistem navigasi. Dalam
kejadian itu, untungnya pilot, awak kabin, dan penumpang selamat. "Kalau
kerusakan navigasi memang berbahaya, pilot tak tahu kemana arah tujuan,"
kata dia. "Bayangkan saja pesawat yang harusnya terbang ke Timur Laut,
malah terbang ke Tenggara sampai Tambolaka." (Baca: MH370 Buka Luka Lama
Korban Pembajakan MH653).
Dia sadar kemungkinan ini bisa dipatahkan dengan fakta bahwa
pesawat Boeing 777-200ER tergolong pesawat keluaran terbaru. Terlebih pabrikan
Boeing terkenal menghasilkan produk yang berkualitas. "Tapi mesin kan
ciptaan manusia, kemungkinan rusak bisa saja terjadi, tak bermaksud meragukan
produksi Boeing," kata dia. (Baca juga: Inikah Rute MH370 Sebelum
Menghilang?).
Sabtu, 8 Maret 2014, pesawat MH-370 yang sedianya terbang
dari Kuala Lumpur, Malaysia menuju Beijing Tiongkok menghilang. Laporan radar
dan komunikasi terkahir pesawat tersebut terbang di wilayah udara perbatasan
Vietnam-Malaysia. Sebanyak 227 penumpang dan 12 kru pesawat dilaporkan hilang.
Setelah tiga pekan pencarian tanpa hasil, pemerintah Malaysia menyatakan MH370
jatuh di Samudera Indonesia bagian Selatan dan tak ada satu pun penumpang yang
selamat.
INDRA WIJAYA
Indonesia Deteksi MH370
di Laut Cina Selatan
TEMPO.CO, Jakarta - Pelaksana tugas Kepala Pusat Komunikasi
Kementerian Perhubungan Bambang Ervan mengatakan pemerintah ikut membantu
pencarian pesawat Malaysia Airlines MH370. Pencarian pesawat melibatkan
peralatan milik pemerintah termasuk
pesawat dan kapal TNI.
Indonesia, kata Bambang, sempat mendapati sinyal pesawat
Boeing 777 - 200 sesaat setelah armada tersebut kehilangan kontak. Kementerian
Perhubungan menangkap sinyal pesawat tersebut tidak melalui satelit melainkan
alat navigasi penerbangan yang disebut Automated Dependent Survelent Broadcast
(ADSB). (Baca:MH370 Jatuh, Seluruh Awak dan Penumpang Tewas)
"Waktu itu belum ada kesimpulan jatuh, hanya sinyal
pantau terakhir yang kami tangkap pesawat ada di Laut Cina Selatan ," kata
Bambang saat dihubungi, Selasa, 25 Maret2014.
Direktorat Navigasi Penerbangan Direktorat Jenderal
Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, ujarnya, mendapati sinyal pesawat MH730 pada pagi hari
setelah malam sebelumnya kehilangan kontak.
Meski pesawat tersebut melintasi area di luar wilayah
Indonesia, pemerintah dapat menelusuri rekaman data ADSB yang berlokasi di
Pulau Matak, Natuna.
"Sinyal yang kami temukan hanya sekali, setelah
dinyatakan kehilangan kontak," katanya. Rekaman tersebut diserahkan
pemerintah kepada Malaysia untuk kepentingan pencarian investasi. (Baca: Cina
Minta Malaysia Buka Semua Informasi MH370 )
Malaysia Airlines MH370 hilang sejak 8 Maret 2014. Pesawat
jurusan Kuala Lumpur-Beijing, Cina membawa 239 orang termasuk awak pesawat.
Penyebab pasti raibnya pesawat ini masih belum diketahui. Banyak negara
terlibat dalam pencarian pesawat ini.
Satelit Thailand Menemukan 300 Objek
Dalam Pencarian Pesawat
Satelit Thailand Menemukan 300 Objek
Dalam Pencarian Pesawat
Bangkok — Citra satelit Thailand
menunjukkan 300 objek mengambang di selatan Samudera Hindia saat melakukan
pencarian pesawat Malaysia Airlines yang hilang. Pernyataan itu disampaikan
oleh seorang pejabat, Kamis ini.
Objek-objek dalam citra satelit
tersebut panjangnya antara 2-15 meter, dan tersebar dalam area seluas 2700 km
persegi barat daya Perth, menurut Badan Geo-Informatika dan Pengembangan
Teknologi Angkasa.
"Tapi kami tidak bisa -- tidak
berani -- mengonfirmasi sebaran objek ini berasal dari pesawat," kata
direktur eksekutif badan tersebut, Anond Snidvongs pada AFP.
Menurut Snidvongs, informasi itu
sudah diberikan ke pemerintah Malaysia.
Foto-foto objek tersebut terekam oleh
satu-satunya satelit pengamatan Bumi milik Thailand pada hari Senin. Namun
citra tersebut butuh beberapa hari untuk diolah, kata Anond.
Objek-objek tersebut berada sekitar
200 km dari lokasi di mana sebelumnya satelit Prancis juga menemukan
objek-objek yang berpotensi berasal dari Boeing 777 yang menghilang pada 8
Maret dengan 239 orang di dalamnya.
Thailand menerima kritik setelah
mengumumkan bahwa radarnya sempat menangkap 'pesawat tak dikenal' beberapa
menit setelah penerbangan MH370 mengirimkan lokasi terakhirnya, baru seminggu
sesudah pesawat hilang.
Angkatan udara Thailand mengatakan
bahwa mereka tidak melaporkan temuan tersebut karena pesawat tak dianggap sebagai
ancaman keselamatan.
Pesawat Malaysia Airlines diduga
jatuh di Samudera Hindia setelah secara misterius keluar dari jalur
penerbangannya dari Kuala Lumpur ke Beijing dan terbang berjam-jam ke arah
berlawanan.
Badai dan angin kencang menghambat
pencarian reruntuhan pesawat tersebut dari udara pada Kamis.
"Selamat Malam": Kontak Terakhir dari Pesawat Malaysia Airlines
yang Hilang
KUALA LUMPUR
(Reuters) - Kata-kata terakhir dari kokpit pesawat Malaysia Airlines MH370
adalah "all right, good night". Saat kata-kata itu diucapkan,
seseorang di pesawat sudah mulai mematikan sistem pemantau pesawat, kata
seorang pejabat Malaysia.
Waktu
penyampaian dan kata-kata yang informal kepada pengendali ruang udara saat
pesawat meninggalkan kawasan Malaysia menuju Beijing semakin menguatkan dugaan
pembajakan atau sabotase.
Kata-kata
'berpamitan' itu muncul setelah salah satu sistem data pesawat, yang
memungkinkan pesawat tetap terpantau meski di luar radar, sengaja dimatikan,
kata Pejabat Menteri Perhubungan Hishammuddin Hussein, Minggu.
"Jawaban
pertanyaan Anda adalah, ya, sistem sebelumnya sudah dimatikan," katanya
pada reporter saat ditanya apakah sistem ACARS -- komputer yang mengirimkan
data status pesawat -- sudah tak aktif saat kata-kata itu diucapkan.
Kata-kata
yang kesannya akrab tersebut tak sesuai dengan prosedur standar radio. Pilot
biasanya akan diminta untuk membaca kembali instruksi atau menghubungi pusat
kendali berikutnya serta menyebutkan identitas pesawat, kata Hugh Dibley,
mantan pilot British airways dan fellow di Royal Aeronautical Society.
Para
penyelidik mungkin kini tengah memeriksa rekaman untuk melihat apakah ada
tanda-tanda stres psikologis dan menentukan identitas orang tersebut. Dari situ
bisa diketahui, apakah kendali pesawat diambilalih oleh pembajak atau pilot
sendiri yang terlibat.
Penyelidik
Malaysia kini tengah menggali masa lalu pilot, kru, dan staf darat yang bekerja
dengan pesawat Boeing 777-200ER untuk mencari alasan kenapa seseorang di dalam
pesawat menerbangkannya ribuan mil dari jalur yang ditentukan.
Pengecekan
latar belakang para penumpang tak membawa hasil apa-apa, namun tak semua negara
yang warganya ada di dalam pesawat membantu memberi informasi, kata kepala
polisi Khalid Abu Bakar.
Seminggu
setelah menghilang, jejak pesawat sama sekali tak ditemukan. Namun para
penyelidik kini yakin bahwa pesawat dialihkan oleh seseorang dengan pengetahuan
mendalam soal pesawat dan navigasi komersil.
Malaysia
bertemu dengan wakil dari hampir 22 negara dan meminta pertolongan
internasional dalam pencarian pesawat. Kini daerah pencarian mencapai pesisir
laut Kaspia sampai titik paling selatan Samudera Hindia.
"Area
pencarian sudah diperluas dengan signifikan," kata Hishammuddin.
"Dari hanya berfokus pada laut dangkal, kini kami melihat tanah lapang dan
luas, melewati 11 negara, begitu juga di laut dalam dan jauh."
Kasus
hilangnya pesawat membuat heran banyak penyelidik dan pakar penerbangan.
Pesawat tak terpantau radar sekitar sejam setelah berangkat dari Kuala Lumpur
menuju Beijing.
Pemerintah
Malaysia kini percaya saat pesawat menyeberangi pantai timur laut negara
tersebut, dan menyeberangi Teluk Thailand, seseorang di dalam pesawat mematikan
sistem komunikasi dan mengarahkan pesawat ke barat.
Sinyal
elektronik yang dikirimkan secara periodik ke satelit menunjukkan bahwa pesawat
bisa terus terbang selama hampir tujuh jam setelah tak terpantau di radar
militer Malaysia, lepas pantai barat laut, menuju India.
Bahan bakar
dalam pesawat cukup untuk terbang selama 7,5-8 jam, kata Direktur Eksekutif
Malaysia Airlines Ahmad Jauhari Yahya.
RUMAH PILOT
DIGELEDAH
Sabtu lalu,
satuan khusus polisi Malaysia menggeledah rumah kapten pesawat, Zaharie Ahmad
Shah, 53, dan first officer atau co-pilot, Fariq Abdul Hamid, 27, di kawasan
perumahan kelas menengah Kuala Lumpur, dekat bandara internasional.
Zaharie
adalah seorang pilot berpengalaman. Kolega dan mantan koleganya menggambarkan
dia sebagai seorang penerbang antusias yang suka menghabiskan waktu liburnya
dengan menerbangkan simulator penerbangan yang dia pasang di rumahnya.
Simulator
penerbangan itu kini sudah diambil oleh polisi untuk diperiksa, kata kepala
polisi.
Pejabat
senior kepolisian mengatakan bahwa program-program yang ada di simulator
penerbangan itu tengah diperiksa. Sejauh ini, program-program tersebut tampak
normal, penggunanya bisa berlatih terbang dan mendarat dalam berbagai kondisi.
Sumber
polisi mengatakan bahwa mereka kini tengah melihat latar pribadi, politik, dan
agama dari kedua pilot serta kru lainnya. Khalid menambahkan bahwa staf darat
yang mungkin bekerja dengan pesawat tengah diperiksa.
Pejabat
senior polisi lainnya mengatakan pada Reuters bahwa penyelidikan tak menemukan
hubungan antara Zaharie -- ayah dari tiga anak yang sudah dewasa dan seorang
kakek, dengan grup militan.
Berbagai
post Facebooknya menyatakan bahwa si pilot adalah penentang aktif koalisi yang
telah memerintah Malaysia selama 57 tahun sejak kemerdekaan.
Sehari
sebelum pesawat hilang, pemimpin oposisi Malaysia Anwar Ibrahim dijatuhi vonis
5 tahun penjara karena tuduhan sodomi. Putusan tersebut, menurut pendukung dan
kelompok pembela hak asasi internasional, kuat pengaruh politiknya.
Ketika
ditanya apakah latar Zaharie sebagai pendukung oposisi juga diperiksa, sumber
polisi pertama mengatakan, "Kami harus menyelidiki semua
kemungkinan."
Malaysia
Airlines sudah menyatakan bahwa mereka tak percaya Zaharie akan mensabotase
pesawat dan koleganya juga menyampaikan hal yang sama.
"Tolong,
biarkan mereka menemukan dulu pesawatnya. Zaharie bukan orang yang punya
kecenderungan bunuh diri, dia bukan seorang yang fanatik akan politik seperti
yang ditulis media asing," kata pilot Malaysia Airlines yang dekat dengan
Zaharie. "Apakah salah jika seseorang punya opini tentang politik?"
Co-pilot
Fariq dinilai religius dan serius akan karirnya, kata keluarga dan teman.
Kedua pilot
tersebut tidak meminta secara khusus untuk terbang bersama.
0 Comments:
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)






